Archive for the ‘Olahraga (Pacuan Kuda)’ Category

Olahraga berkuda adalah olahraga yang ideal untuk dinikmati bersama dengan seluruh keluarga. Balita pun sudah dapat menikmati berkuda kalau ia menunggang kuda poni yang dituntun, dan mulai usia 5-6 tahun anak-anak sudah dapat belajar menunggang sendiri. Bagi remaja olahraga berkuda juga sangat menarik, dan dewasa sampai usia lanjut pun dapat menemukan kesenangan dengan mitra berkaki empat itu. Ada penunggang yang berkuda hanya sebagai hobby belaka, ada juga yang memiliki ambisi untuk berprestasi dalam olahraga yang sangat beraneka ragam ini. Bagaimanakah caranya menjadi penunggang kuda?

Biasanya, minat berkuda muncul ketika anak-anak masih berusia balita atau sewaktu SD. Kalau ada kesempatan berkuda, misalnya di tempat-tempat wisata seperti kebun binatang, daerah pegunungan dan lain-lain, anak-anak pasti ingin mencobanya. Anak-anak pada umumnya menikmati mainan yang bergerak dalam berbagai bentuk, sebut saja komedi putar atau ayunan. Tetapi dengan kuda, mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan hewan yang memberikan respons, dan sifat berani dan percaya diri si anak biasanya juga mendapatkan sambutan positif dari orang tua dan keluarga. Anak-anak memiliki bakat alam untuk menunggang karena lebih luwes dan lentur, cepat menyesuaikan diri dan dapat mengikuti ayunan kuda dengan mudah.

Minat berkuda bukan hanya timbul pada anak-anak, tetapi juga pada dewasa, walaupun dengan alasan yang berbeda. Yang sering terjadi adalah bahwa orang tua dari anak yang sedang belajar berkuda menjadi ikut tertarik, atau bahwa dewasa hanya ingin menjadikan impian masa kanak-kanak, merasakanfreedom, power and grace, sebuah kenyataan.

Seperti setiap olahraga lainnya, berkuda memiliki faktor resiko. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk belajar teknik berkuda dengan benar, supaya dapat mengendalikan kuda dalam setiap situasi. Teknik yang baik dan benar juga memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi penunggangnya dan menjadikan berkuda sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Di berbagai daerah ada sarana atau sekolah-sekolah berkuda yang menyediakan fasilitas untuk belajar menunggang kuda. Saat ini pada federasi nasional tercatat sekitar 25 klub berkuda.

Sebagai info: sebaiknya jangan menghubungi sekolah berkuda pada hari Senin, karena untuk tempat berkuda di seluruh dunia hari Senin adalah hari libur!

Selain fasilitas lapangan yang sesuai standar, tentunya diperlukan kuda-kuda sekolah yang telah terlatih untuk ditunggang oleh pemula, dan juga pelatih yang berpengalaman.

Perlengkapan awal untuk penunggang adalah helm berkuda (bila perlu dipinjamkan pihak sekolah), celana panjang (kalau bisa jangan terlalu longgar karena mudah terjepit) dan sepatu dengan sedikit hak, sebaiknya setinggi mata kaki. Kalau ingin melanjutkan dan untuk kenyamanan penunggang, dianjurkan untuk memiliki helm, sarung tangan, celana dan boots berkuda.

Sebaiknya berlatih 2-3 kali per minggu. Selain belajar teknik menunggang, pemula juga diperkenalkan dengan horsemanship, yaitu bagaimana berinteraksi dengan kuda, cara merawat kuda dan pemasangan alat tunggang seperti pelana, kendali dan lain-lain.

Pada tahap awal belajar menunggang, pemula akan dilongser selama kira-kira 30 menit. Longser atau lunging adalah berlatih mengelilingi pelatih yang mengendalikan kuda dengan tali panjang sekitar 7 meter yang disambungkan ke bagian mulut (mouthpiece) kuda. Dengan cara itu, pemula dapat berkonsentrasi kepada dirinya sendiri dan tidak perlu risaukan kudanya.

Yang diajarkan pertama adalah cara duduk yang benar, menemukan keseimbangan badan dalam setiap cara gerak kuda (walk, trot, canter) dan bagaimana memberikan pertolongan kepada kuda untuk mengendalikannya. Pada prinsipnya, kuda digerakkan dengan betis dan dihentikan dengan kendali, tetapi cara duduk dan suara si penunggang juga dikategorikan sebagai pertolongan.

Tergantung bakat si penunggang, akan dilongser sebanyak kurang-lebih empat kali latihan, kemudian dilepas untuk latihan tanpa tali longser. Waktu latihan juga lebih lama, yaitu sekitar 45 menit. Kalau sudah dapat menemukan keseimbangan dan mengendalikan kuda dengan baik, pola latihan juga semakin intensif dan pada akhirnya penunggang dapat mengikuti pertandingan. Setelah beberapa waktu berlatih berkuda, terlihat ke mana bakat dan minat si penunggang mengarah. Penunggang yang senang berkuda secara tenang dan halus biasanya memilih Dressage, sementara yang lebih berani dan yang mencari action akan mengarah ke Showjumping. Yang senang berwisata biasanya memilih Endurance, dan yang punya bakat untuk berbagai nomor mengarah ke Eventing.

Walaupun tidak harus memiliki kuda sendiri, pada suatu saat seorang penunggang pasti mempertimbangkan ide itu. Menemukan kuda yang jodoh dengan penunggang dan dapat menunjang kegiatan berkudanya bukanlah hal yang begitu mudah. Memiliki seekor kuda juga merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar!

Perjalanan seorang penunggang pemula hingga menjadi atlit hanyalah melalui prestasi yang diraihnya. Semakin baik prestasinya, semakin baik pula materi atau kuda yang dapat ditunggangnya.

Tanpa membedakan gender dan kalangan, dan apakah seorang penunggang memilih berkuda tetap sebagai amatir atau sebagai penunggang professional hingga pelatih, semua dapat berpartisipasi dan menikmati olahraga yang beraneka ragam ini

  1. Drawing: adalah sebuah rapat penentuan RACE untuk suatu event pacuan. Diadakan dua atau tiga hari menjelang pacuan hari pertama. Bertujuan untuk menentukan masing-masing kuda masuk pada klas dan race yang mana. Sebelum acara drawing, masing-masing kuda akan diukur ketinggiannya oleh Dewan Juri Pacuan (aturan PORDASI).
  2. Race atau disebut juga RUN: adalah istilah untuk menyebut pertandingan pacuan kuda. Dalam satu hari pacuan biasanya terdapat 10 s/d 13 race. Masing-masing kuda hanya boleh lari pada 1 race sesuai dengan kelas yang dipilih dan aturan/ukuran kuda. Race ditentukan saat drawing.
  3. Scratch: istilah yang dipakai bila kuda tidak jadi ikut lomba baik dengan sukarela atau terpaksa karena tidak bisa masuk startgate dalam batas waktu yang sudah ditentukan.
  4. Startgate: adalah peralatan untuk melakukan START dalam suatu lomba. Bentuknya adalah rangkaian besi untuk memasukkan kuda dan jockey sebelum aba-aba “START” dilakukan. Start gate berbentuk sebuah rangkaian beberapa kotak yang longgar sehingga kuda bisa berhenti dan menunggu untuk lepas melesat kedepan. Sebuah pintu tertutup rapat didepan dan akan terbuka secara bersamaan setelah bendera START dan tuas START ditekan oleh seorang START MASTER. Sebuah startgate bersifat mobil dapat dipindahkan sesuai garis start yang ditentukan dengan bantuan sebuah kendaraan penarik.
  5. START Master: Start master adalah petugas dalam lomba pacuan sebagai pelepas kuda.
  6. Gate Master: Petugas yang melakukan pekerjaan dilingkungan startgate, memasukkan kuda-kuda kedalam kotak-kotak start, menutup pintu start, memindahkan startgate dsb.
  7. Dewan Stewards atau disebut juga Dewan Juri: Adalah suatu komisi yang bertanggung jawab atas jalannya lomba pacuan. Menentukan apakah pacuan bisa diteruskan atau diberhentikan, menentukan apakah kuda boleh dilarikan atau tidak, menentukan siapakah pemenang suatu lomba, menentukan apakah jockey telah melakukan pelanggaran dan juga memberikan peringatan.
  8. Photo Finish: Suatu peralatan photography yang dipasang digaris finish untuk merekam kuda-kuda yang masuk garis finish. Penting sebagai penentu siapakah kuda yang memasuki finish lebih awal bila ada dua atau lebih secara bersama memasuki garis finish. Bila tidak mempergunakan photo finish, bila terdapat kuda kuda yang secara bersamaan memasuki garis finish maka pemenangnya adalah kuda yang berada di band paling luar.
  9. Band: adalah garis pembatas track pacu terbuat dari kayu, fiber, beton atau besi atau bahkan tali temali yang terangkai mengelilingi track pacu. Band dalam artinya garis pembatas track pacu sebelah dalam sedangkan band luar adalah garis pembatas sebelah luar track. Band dalam dibuat setinggi 40-60 cm sedangkan band luar 80-100 cm.
  10. Track: adalah jalur melingkar berbentuk oval lebarnya antara 10 s/d 15 M sebagai jalur pacu kuda. Landasan bervariasi ada tanah hitam, tanah rumput atau pasir. Sesuai aturan PORDASI kuda lari mengelilingi track dengan arah searah jarum jam (kekanan). Track dibatasi oleh dua garis pembatas yaitu sebelah dalam dan sebelah luar. Kuda tidak boleh keluar dari track pacu selama lomba.
  11. Stall Paddock atau disebut paddock pameran: adalah suatu area dilapangan pacuan kuda dimana kuda-kuda menunggu pacuan dimulai. Kuda-kuda akan berjalan beriringan,sesuai dengan nomor punggung masing-masing, mengelilingi paddock yang sekaligus memberikan kesempatan kepada para penggemar pacuan kuda untuk mengamati “performance” kuda masing-masing. Paddock pameran berada didepan tribune kehormatan dan sekaligus didepan garis finish.
  12. Control Tower: Adalah sebuah menara untuk Dewan Stewards sebagai tempat melakukan kontrol monitoring atas jalannya lomba.

Terminologi Kuda

Posted: 23 Maret 2011 in Olahraga (Pacuan Kuda)

Ada beberapa istilah dalam bahasa Inggris yang perlu dimengerti oleh orang kuda. Selain istilah anatomi kuda yang banyak anda ketemukan di beberapa buku referensi, istilah-istilah berikut mungkin bisa membantu anda mengerti dan memahami buku-buku berbahasa Inggris tentang kuda. Namun juga harus dipahami bahwa dalam bahasa Inggris banyak terdapat kata-kata yang bersifat “slang” atau kata yang hanya terdapat didaerah tertentu (logat). Maka untuk itu istilah ini mungkin tepat hanya pada lingkungan atau daerah yang terbatas. Contohnya di Inggris Raya, ada perbedaan istilah colt, kuda pacu kelamin jantan dibawah 5 tahun semua disebut colt. Demikian pula istilah filly untuk kuda betina dibawah 5 tahun. Di Amerika juga ada perbedaan semacam itu.

  1. Colt : Anak kuda jantan berusia antara 1 s/d 2 tahun. Banyak orang menyebut anak kuda dengan colt , padahal colt hanya mengacu kepada anak kuda berkelamin jantan saja.
  2. Foal : Anak kuda baik jantan atau betina yang berumur dibawah 1 tahun
  3. Filly : Kuda betina umur dibawah 4 tahun
  4. Stallion : Kuda jantan yang tidak dikebiri berumur diatas 4 tahun
  5. Mare : Kuda betina berumur diatas 4 tahun
  6. Gelding : kuda jantan berumur diatas 4 tahun yang sudah dikebiri
  7. Yearling : Anak kuda yang berumur antara 1 s/d 2 tahun.
  8. Thoroughbred Horse: satu jenis RAS kuda yang dikembangkan sejak tahun 1600 khusus untuk RACE atau pacuan. Dikembangkan pertama kali di Inggris dari 3 ekor kuda yaitu Byerly Turk, Darley Arabian dan Godolphin Arabian. Berpostur tinggi, ringan dan kecepatan tinggi. Dikembangkan dari persilangan kuda arab dan kuda Turki dan sekarang sudah berkembang ke seluruh dunia.
  9. Kuda Arab (Arabian Horse): satu jenis RAS kuda yang berasal dari daerah Arab, dipelihara orang untuk berbagai keperluan. Karena posturnya yang tinggi, performance yang istimewa, ketahanan tubuh (endurance), kecerdasannya, spirit maka kuda arab dipakai juga untuk berperang. Menjadi peliharaan orang-orang suku pengembara Baduwi di daerah padang pasir Arab. Kuda arab banyak dipakai untuk persilangan kuda RAS lain, bertujuan untuk meningkatkan kualitas (grading up). Byerly Turk, Darley Arabian dan Godolphin Arabian adalah moyangnya kuda Throurougbred.

Bagi anda para pemula dalam olah raga berkuda, peralatan dasar yang harus anda ketahui dan miliki sebagai perlengkapan wajib. Peralatan tersebut harus anda kontrol baik kelengkapannya maupun kualitasnya. Peralatan dasar itu terbagi dalam 2 hal:

1. Peralatan bagi si Penunggang

2. Peralatan bagi si Kuda

1. Peralatan Bagi Si Penunggang

Peralatan dasar bagi penunggang kuda terdiri atas peralatan keamanan dan pelindung diri antara lain: standard safety helmet (helm), sepatu tunggang/boot, pelindung dada (bila perlu), kaca mata (race). Serta Cemeti (pecut).

2. Peralatan Bagi Si Kuda:

Peralatan bagi si kuda terdiri atas Peralatan Punggung atau disebut pelana/saddle beserta perlengkapannya dan Peralatan Kepala atau disebut Head Bridle dan perlengkapannya.

Peralatan Punggung Kuda terdiri atas:

a. Pelana Kuda atau disebut “Saddle=English”

b. Alas Saddle atau dikenal dengan kata “Lebrak=Jawa”, atau “Saddle Pad = English”.

c. Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Songgowedi=Jawa” atau “Stirrups = English”

d. Tali Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Tali Ulur = Jawa” atau “Adjustable Stirrup Straps=English”.

e. Amben atau dikenal dengan kata Tali Perut atau “Girth = English” terdiri atas Amben Luar dan Amben Dalam.

Sedangkan Peralatan Kepala terdiri atas:

a. Sarungan Kepala atau “Head Bridle=English” dengan berbagai variasi seperti dengan Nose-band dll.

b. Kendali besi atau dikenal dengan kata “Cakotan=Jawa” atau “Bite=English”

c. Tali Kekang atau dikenal dengan kata “Lis = Jawa” atau “Reins=English”

d. Martingal alat ini dipakai untuk membantu menggendalikan kuda. Ada vertikal martingal dan horizontal martingal.

e. Tali Tuntunan atau disebut “Lead Rope=English”.

Peralatan-peralatan kuda tersebut dibuat khusus untuk kuda yang bersangkutan dan disesuaikan dengan ukuran kuda: tingggi kuda, ukuran lingkar kepala, lingkar rahang, lingkar perut, panjang leher dll. Peralatan Kuda juga dibuat tersendiri tergantung disiplin yang diambil seperti: Khusus untuk tunggang (equestrian), khusus pacuan (race) maupun untuk latihan (training) sehari-hari.

Pacuan Kuda Klasik mengharuskan peralatan berkuda terbuat dari bahan kulit asli, namun atas tuntutan jaman, pertimbangan harga, fleksibilitas dan kemudahan sekarang ini sebagian peralatan kuda telah dibuat dari bahan bahan sintetis seperti nylon, plastik dll.

Pelana Kuda atau Saddle adalah salah satu peralatan kuda yang paling banyak variasinya sesuai dengan disiplin olah raga berkuda yang ada. Ada Pelana Gaya Inggris atau disebut English Saddle. Pelana inilah yang paling sering dipakai untuk Tunggang, maupun Race. Ada juga Pelana Gaya Western atau dikenal dengan Western Style Saddle yang dipakai dalam olah raga berkuda gaya Western Cowboy atau Rodeo.

Pelana kuda Equestrian gaya Inggris juga terdiri atas berbagai model: Tunggang Long Range (Endurance), Dressage maupun Show Jumping. Design pelana disesuaikan dengan posisi kaki penunggang dan titik berat badan penunggang diatas punggung kuda. Para pembuat pelana/saddle memperhitungkan dengan cermat segi-segi keamanan dan kekuatan pelananya untuk disiplin olah raga berkuda yang dimaksud.

Selain itu ada olah raga berkuda jenis Bendi dan Polo yang di Indonesia belum populer. Peralatanya juga sedikit berbeda.

Untuk peralatan tunggang maupun pacu sudah banyak yang dapat dibuat sendiri didalam negeri dengan kualitas baik dengan harga yang terjangkau namun bagi penggemar barang import juga dapat memperolehnya meskipun relatif lebih sulit didapat, serta harga yang jauh lebih mahal. Barang-barang itu biasanya buatan Australia, Amerika maupun Inggris.

Rasulullah SAW memerintahkan ummat Islam untuk mengajari anak-anak mereka Berenang, Memanah dan Berkuda.  Sebagian orang menganggap hadist ini tidak lagi relevan dengan keadaan sekarang.  Namun, apakah hadist tersebut memang ”ketinggalan zaman”?

Jika hanya ditafsirkan secara harfiah, mungkin benar, walaupun ketiga kegiatan tersebut tetap boleh dilaksanakan dan tetap bermanfaat.  Namun Rasulullah SAW tentu bukan sedang berkata-kata menurut hawa nafsunya.  Beliau lebih memprediksi keadaan di masa depan.

  1. Berenang dalam hadits di atas dapat ditafsirkan sebagai berenang dalam berbagai macam pemikiran manusia.  Kita melihat pada zaman sekarang ini jumlah ideologi atau isme hampir sama banyaknya dengan jumlah kepala manusia, apalagi di dunia maya seperti ini.  Apabila kita tidak mampu berenang di lautan pemikiran manusia tersebut, bisa jadi tanpa sadar kita tenggelam dan kehilangan iman yang seharusnya menjadi pegangan kita.  Untuk memiliki kemampuan berenang tersebut, kita harus banyak membaca, mencari ilmu dan belajar pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.  Kemampuan ”berenang” tadi akan menjadi bekal agar kita dapat melaksanakan perintah yang berikutnya yaitu memanah:
  2. Memanah adalah simbol dari ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan manusia agar kita dan mereka dapat bersinergi dan saling menguntungkan.  Memanah memerlukan konsentrasi dan latihan yang berkesinambungan.  Memanah sasaran yang bergerak tentu lebih sulit daripada sasaran yang diam.  Setiap sasaran (hati manusia) memiliki karakteristik tersendiri dan sasaran tersebut selalu bergerak gerak (hati manusia senantiasa berbolak-balik).  Namun, apabila kita berhasil  memanah sasaran tersebut (mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari orang tersebut), maka kita siap untuk melaksanakan perintah yang selanjutnya: berkuda.
  3. Berkuda dalam hadist ini adalah simbol kerjasama yang saling menguntungkan.  Secara fisik kuda tentu lebih kuat dari penunggannya, namun sang penunggang tetap harus menguasai kuda tersebut agar dia bisa sampai ke tujuannya.  Demikian pula dalam kehidupan manusia.  Kita sering kali harus memimpin orang-orang yang lebih pintar, lebih kuat dan lebih banyak memiliki kelebihan dibanding kita.  Berkuda dalam hal ini adalah simbol dari hidup dan beramal soleh secara berjamaah.

Namun, satu hal yang harus diingat adalah kemampuan-kemampuan yang disimbolkan dengan berenang, memanah dan berkuda tersebut adalah amanah yang harus digunakan untuk mematuhi perintah Alloh dan RasulNya, bukan untuk disalahgunakan demi memenuhi tuntutan hawa nafsu.

Sejarah singkat

Di Indonesia peranan kuda sampai meningkat untuk keperluan olahraga, tidak banyak berbeda dengan negara-negara lain. Tetapi peranan kuda di Indonesia lebih dekat dengan masyarakat petani, dari pada keluarga Raja. Dahulunya oleh para petani, kuda disamping untuk keperluan angkutan, juga untuk menarik bajak di sawah, disamping kerbau di beberapa daerah.

Sedang cikal bakal olahraga ketangkasan berkuda di Indonesia berawal dari menunggang kuda sambil berburu di hutan-hutan. Kesenangan berburu dengan menunggang kuda ini masih banyak ditemukan di daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur. Di pulau Jawa, kuda di abad 16 sebelumnya menjadi simbol kemegahan para Raja dan dipergunakan untuk peperangan, yang pada gilirannya dijadikan untuk olahraga sebagai tontonan. Pada zaman Belanda, olahraga berkuda dikenal rakyat melalui pacuan kuda, yang dilakukan pada hari-hari pasar atau ulang tahun Ratu Belanda. Hampir setiap daerah menjadi pusat kegiatan pacuan kuda, dan dari situlah tumbuh peternakan tradisional, yang melahirkan kuda-kuda pacu lokal, yang dikenal dengan kuda Batak, kuda Padang Mangatas, kuda Priangan, kuda Sumba, kuda Minahasa dan kuda Sandel. Daerah-daerah yang dikenal mempunyai ternak-ternak kuda tradisional adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Lomba ketangkasan berkuda mulai dikenal melalui serdadu-serdadu Belanda dengan lomba lompat rintangan (Jumping). Salah satu pusat kavaleri berkuda waktu itu terletak di kota Cimahi, 10 km dari Bandung ke arah barat.

Pada zaman Belanda, organisasi olahraga kuda pacu sudah terbentuk, sesuai dengan perkembangan fasilitas gelanggang pacuan di daerah-daerah. Perkumpulan yang tereknal pada waktu itu, adalah : Bataviase en Buitenzorgse Wedloop Sociteit (BBWS), Minahasa Wedloop Societeit (MWS), Preanger Wedloop Sociteit (PWS). Setelah kemerdekaan, maka di tahun 1950 di beberapa daerah yang sebelum perang Dunia II ada perkumpulan kuda pacu, mulai menata kembali perkumpulan-perkumpulannya. Seperti di Bogor dengan Perkumpulan Pacuan Kuda Jakarta-Bogor (PPKDB) dan Perkumpulan Pacuan Kuda Priangan (PPKP) dan lain-lainnya.

Di tahun 1953 didirikan suatu badan yang berusaha menyatukan semua perkumpulan olahraga berkuda di Indonesia, diberi nama Pusat Organisasi PONI Seluruh Indonesia (POPSI) dengan ketuanya Letkol. Singgih. Tetapi POPSI dalam perkembangannya, malahan surut dan menjadi federasi-federasi, yang akhirnya hilang begitu saja. Kemudian pada tahun 1966, berdirilah organisasi berkuda yang merupakan satu-satunya yang telah diakui oleh KONI Pusat, yaitu : Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI). PORDASI dibentuk atas prakarsa empat daerah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan satu klub SEKARDIU yang dibentuk corps Kavaleri Bandung. Sebagai Ketua Umum pertama adalah Achmad Syam dari Bogor, PORDASI diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya organisasi Induk berkuda di Indonesia, dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga tanggal 28 Oktober 1966, nomor : 016/tahun 1966. Sejak itu PORDASI selalu aktif menyelenggarakan perlombaan-perlombaan, baik dalam lomba pacuan kuda maupun lomba ketangkasan berkuda.

Partisipasi Dalam Kompetisi

Selama ini ECI-PORDASI telah mengikuti beberapa kegiatan kompetisi, baik yang internasional maupun tingkat nasional. Di internasional turut terjun dalam Asian Games, SEA Games, ASEAN, FEI World Challenge dan sebagainya. Sedang tingkat nasional turut serta dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Walaupun di tingkat internasional, Indonesia belum begitu banyak berbicara, tetapi keikutsertaan PORDASI di arena Internasional, merupakan modal utama bagi perkembangan dan peningkatan prestasi olahraga berkuda Indonesia.Saat ini Komisi Equestrian Indonesia ECI – PORDASI diakui sebagai federasi nasional olahraga berkuda equestrian.

Pacuan kuda memiliki tingkat sendiri ditiap lombanya. Dan untuk berlaga ditingkat selanjutnya, kuda harus masuk posisi 5 besar pada tingkat sebelumnya. Tingkatannya adalah sebagai berikut :

  • Maiden Race (balapan untuk kuda pemula)
  • Class D (berada 1 tingkat diatas Maiden Race)
  • Class C (berada 1 tingkat diatas Class D)
  • Class B
  • Class A
  • Grade III
  • Grade II
  • Grade I (merupakan tingkatan tertinggi dalam pacuan. Grade I Race pesertanya minimal telah masuk Grade III. Dan Grade I dibagi menjadi 2 yakni untuk kuda lokal dan untuk internasional.)

Dengan sistem tingkatan ini, kuda yang tidak sukses dikelasnya akan turun ke kelas dibawahnya (batasnya hingga Class D Race). Sedangkan yang gagal masuk 5 besar, akan tetap dikelasnya. Namun untuk kuda yang benar2 hebat maka setelah memenangiMaiden Race dapat langsung masuk Grade III Race. Dan untuk pemenang Class B & A Race dapat langsung mengikuti Grade II Race. Aturan ini tidak berlaku untuk Grade I Race karena race ini hanya diikuti oleh kuda2 hebat yang berpengalaman(telah mengikuti & menjuarai banyak lomba). Sedangkan umur untuk ikut lomba Flat Race (untuk Jumping Race tinggal ditambah 1 tahun) adalah :

  • 2 tahun (mulai dapat mengikuti Maiden Race dan memilikiGrade I Race khusus untuk kuda muda.)
  • 3 tahun (bagi kuda yang sukses di umur 2 tahun, dapat mengikuti kejuaraan 3 Grade I Race utama untuk kuda 3 tahun)
  • 4 tahun (masa transisi, disini kuda sudah harus melawan yang lebih tua dari dirinya. Kebanyakan kuda2 4 tahun kalah ditangan kuda2 5 tahun yang telah matang baik skill maupun usia)
  • 5 tahun (masa emas bagi seekor kuda pacu)
  • 6 tahun (masa menurun, biasanya kuda2 hebat mulai pensiun dan membuat keturunan saat kondisinya masih bagus)
  • Umumnya, kuda maksimal mengikuti lomba hingga berusia 8 tahun.

 

Negara2 di dunia ini yang terkenal dengan pacuan kudanya adalah :

  • Amerika.
  • Inggris
  • Prancis
  • Jepang
  • Arab Saudi dll.

Keempat negara itu memiliki pacuan kuda yang cukup terkenal di dunia dan biasanya menjadi ajang bertemunya kuda2 terbaik dari pacuan pacuan utama.

Sedangkan di Indonesia, tidak banyak lintasan Pacuan Kuda yang sesuai standart. Setau saya hanya 3 lintasan Indonesia yang memenuhi standart yakni Lap. Pacuan Pulo Mas, lalu di Kalimantan(lupa namanya tapi menyangkut kasus korupsi sang Bupati) dan terakhir Kenjeran, Surabaya. Untuk pertandingan di 3 tempat tersebut telah memiliki jadwal yang tetap di tiap tahunnya. Dan rata2 adalah kejuaraan besar. Sedangkan di Provinsi lain, sarana pacuan tidak sebaik di 3 daerah tersebut.

 

Salah satu bentuk utama dari pacuan kuda yang populer di banyak bagian dunia sekarang adalah Pacuan Kuda Thoroughbred Race. Harness racing juga populer di daerah sebelah timur Amerika Serikat dan lebih populer dibandingkan dengan pacuan thoroughbred di Kanada dan beberapa bagian Eropa.

Pembiakan, latihan dan pacuan kuda di banyak negara kini menjadi aktivitas ekonomi yang penting sehingga, dalam banyak hal ia menjadi pendukung kegiatan perjudian. Kuda-kuda yang luar biasa dapat memenangkan jutaan dolar dan menghasilkan berjuta-juta dolar lagi dengan menjadi pejantan lewat pembiakan kuda.

Sejarah

Posted: 23 Maret 2011 in Olahraga (Pacuan Kuda)

Pacuan kuda adalah Olahraga berkuda yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, lomba dimana seorang joki mengendarai/ menunggangi kuda untuk mencapai garis finish secepatnya dengan lintasan yang telah ditentukan. Awalnya pacuan kuda sering menggunakan kereta, Contohnya adalah balap kereta kuda yang populer di masa Romawi kuno. Di kalangan masyarakat Nordik juga dikenal pacuan kuda milik dewa Odin dengan raksasa Hrungnir dalam Mitologi mereka di daerah Eropa. Pacuan kuda sering berkaitan dengan judi, karena dari sanalah pendapatan utama bagi penyelenggara. Olah raga ini sering disebut sebagai Olah raga raja-raja.